IKN Pindah Ke Kaltim, Orang Dayak Diharapkan Mengembangkan Skill Agar Bisa Beradaptasi

Iklan Semua Halaman

Header Menu

IKN Pindah Ke Kaltim, Orang Dayak Diharapkan Mengembangkan Skill Agar Bisa Beradaptasi

Mikael Milang
Rabu, 11 September 2019
Para Tokoh Dayak Diskusi Terkait Pemindahan Ibukota Negara di Hotel Amaris, Samarinda, Senin (09/09/2019). (Dok. Agustinus Lejiu).

Beritamahulu.com, Samarinda
– Pemindahan Ibukota Negara (IKN) ke Kaltim sudah final. Dari ke-tiga Provinsi dikalimantan yang awalnya menjadi target rencana pemindahan ibukota yaitu Kalteng, Kalsel dan Kaltim, ternyata Kaltimlah lokasi pasti pemindahan Ibukota Negara, yakni di wilayah Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara.


Hal ini resmi disampaikan Presiden Joko Widodo dalam konfrensi pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/08/2019) lalu.

Seperti dilansir CNBCINDONESIA.COM, Jokowi mengumumkan bahwa Lokasi Pemindahan Ibukota Negara berada diwilayah Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Pemerintah telah lakukan kajian mendalam dan kita intensifkan studi dalam 3 tahun terakhir. Hasil kajian menyimpulkan lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di kabupaten Kutai Kartanagara Provinsi Kalimatan Timur”, paparnya.

Dalam diskusi para Tokoh Dayak Kaltim di Hotel Amaris, Samarinda, Senin (09/09/2019) malam. Dosen Fisip Universitas Unmul, Martinus Nanang mengatakan bahwa Suku Dayak harus siap dan bisa beradaptasi dengan perubahan yang diakibatkan perpindahan Ibukota Negara ke Kaltim.

“Orang Dayak harus berpikir futuristik atau berpikir ke depan bukan ke belakang. Jika kita tengok terus ke belakang, kita terus akan tergantung pada tanah dan ladang. Padahal kita mestinya melihat kedepan. Ini sudah era revolusi industri 4.0 dimana kekuatan sesungguhnya membangun masa depan itu pada penguasaan teknologi informasi” , ujarnya.

Iapun menambahkan, orang Dayak dapat membagi skema pembinaan Sumber Daya Manusianya (SDM) minimal melalui 2 metode, yakni Metode Cepat dimana adanya pelatihan-pelatihan agar orang Dayak memiliki keterampilan dibidang IT dan juga bertukang, baik beton maupun kayu.

“Jangan dipaksakan orang Dayak harus kuliah semua karena banyak tenaga tukang dan lain-lainnya yang dibutuhkan untuk membangun Ibukota Negara ini. Jika tidak, ya tenaga bisa didatangkan dari luar semua dan ini bisa menjadi masalah”, ungkap Nanang.

Yang kedua, lanjutnya, orang Dayak yang memiliki kecerdasan yang memadai bisa disekolahkan melalui lembaga pendidikan/universitas yang baik dan unggul. Jadi kita orang Dayak harus siap dan bisa beradaptasi dengan hal-hal yang baru dengan kedatangan Ibukota Negara. 

Bisa beradaptasi berarti memiliki kemampuan untuk bertahan hidup (survive) dalam situasi yang berubah.

Selain itu, Moses Komela, Kepala Gereja Katolik Katederal Samarinda menjelaskan bahwa IKN ini akan menimbulkan akselerasi pembangunan yang dan akan terjadi ekspansi yang luar biasa yang bisa saja mendobrak banyak hal.

“Jika orang Dayak tidak bisa beradaptasi, maka dapat saja terjadi goncangan. Perubahan yang masif, baik demografi dan tatanan sosial lainnya dapat mengubah homogenitas dengan heterogenitas dalam waktu yang singkat”, jelas Pria yang akrab dipanggil Pastor Moses ini.

Ia menambahkan, perjuangan orang Dayak tidak sampai, sejauh ini belum bisa fokus karena itu terlalu banyak energi yang sia-sia, karena perjuangan terpilah-pilah dengan tokoh yang juga terpilah-pilah dan cenderung berjalan sendiri-sendiri. 

Secara umum, lanjutnya, perjuangan orang Dayak yakni berjuang dengan basis politik dan kebudayaan, dan jalur intelektul-profesional. Kelompok-kelompok dayak bemekaran pada dua dimensi ini. Banyak energi yang luar biasa yang dihasilkan tapi tidak efektif bagi dayak secara keseluruhan. 

Dalam diskusi tersebut, para tokoh Dayak yang hadir berharap perlu adanya penguatan kelembagaan yang menjadi wadah organisasi orang Dayak untuk berkonsolidasi dan mengambil bagian atau berpartisipasi dalam setiap pembangunan dengan diskusi-diskusi lebih mendalam lagi sebagai upaya memberi masukan kepada pemerintah terkait kebijakan pemindahan Ibukota Negara ini.

Dalam diskusi ini hadir Agustinus Lejiu, S.Sos.,M.Si, Martinus Nanang, Dr. Moses Komela, Rudi Sulistio, dr. Lukas Demo, A Petrus Ngo, SE, MM, Markus Laden, S.Psi. (BM/MM)

Editor: Hendri

loading...