2019 Tepat 100 Tahun Usia Kampung Matalibaq

Iklan Semua Halaman

Header Menu

2019 Tepat 100 Tahun Usia Kampung Matalibaq

Mikael Milang
Kamis, 21 Februari 2019
Sambutan Petinggi Huvang Paran Dalam Upacara Hudoq Kawit di Kampung Matalibaq

Beritamahulu.com, Matalibaq - Kampung Matalibaq merupakan salah satu kampung yang cukup tua jika kita telusuri dari sejarah berdirinya. Kampung yang terletak dihulu sungai pariq, Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu ini, akan berusia 100 tahun tepat ditahun 2019. Hanya saja tanggal dan bulannya masih belum ditentukan oleh pemangku kepentigan dikampung Matalibaq.

Saat di wawancarai oleh beritamahulu.com di kediamannya, Jumat (15/02/2019). Petinggi Huvang Paran membenarkan bahwa usia Kampung yang akrab disebut Uma Telivaq ini telah berusia 100 tahun di tahun 2019 ini.

"2019, Kampung Matalibaq tepat 100 tahunnya, habis panen, kita Musyawarah Adat (Musdat) dulu untuk menentukan tanggal dan bulannya hari jadi Kampung Matalibaq ini. Setelah ditentukan, baru akan dikeluarkan Perkam (Peraturan Kampung) tentang hari jadinya," Jelas Petinggi Huvang Paran.

Petinggi Huvang Paran Menambahkan bahwa penentuan hari jadi kampung ini tidak serta merta di sertai acaranya, menurutnya yang penting sudah menentukan hari jadinya dan untuk acaranya tidak harus 2019 ini.


Kepala Adat Kampung Matalibaq bersama Istri saat diwawancarai beritamahulu.com dikediamannya

Sebelumnya, Kepala adat Kampung Matalibaq, Hendrikus Hibau Bong saat diwawancara dikediamannya, mengatakan bahwa Kampung Matalibaq memiliki adat dan tradisi yang berbeda dengan kampung lainnya. Dikarenakan alasannya adalah, konon pada saat semua kampung berkumpul untuk menentukan adat semua suku dayak, Matalibaqlah paling terakhir hadir. Sehingga Kampung Matalibaq diserahkan semua "sisa" adat yang tidak masuk dalam adat suku lainnya, itulah alasannya mengapa Matalibaq sangat unik dan berbeda dari Kampung lainnya.

Berikut Sejarah Singkat yang kami rangkum pada halaman ini untuk anda ketahui sejarah berdirinya Kampung Matalibaq.

1. Riwayat Sejarah Dayak Bahau Uma Telivaq


Matalibaq terletak di Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Hulu, Kalimantan Timur. Dari Samarinda ke kampung Matalibaq, dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi kapal sungai menuju kampung Lutan, dengan jarak tempuh sekitar 32,5 jam. Dari Lutan, menuju Matalibaq, harus menggunakan perahu ketinting mudik sungai Pariq sekitar 30 menit.


Luas desa Matalibaq mencapai 77,5 km2. Sedangkan batas kampung di sebelah Utara berbatasan dengan sungai Ritan, tepatnya di Batu Putih, 39 km dari kampung. Sebelah Selatan berbatasan dengan Lutan, 3 km dari kampung, di sebelah Barat berbatasan dengan Long Hubung, sejauh 5 km dan di sebelah Timur berbatasan dengan sungai Meribu, sejauh 5 km dari kampung Matalibaq.

2. Sejarah Perpindahan Dayak Bahau Uma Telivaq


Menurut tutur leluhur, masyarakat Dayak Bahau yang mendiami Matalibaq, diyakini berasal dari Apo Kayan , tepatnya di Telivaq Telang Usan. Suatu masa, mereka bersepakat mencari tempat tinggal baru, dengan alasan karena kawasan Apo Kayan tidak lagi subur sehingga hasil perladangan kurang memuaskan.

Dalam perjalanan perpindahan, mereka menempuh cara menyeberang sungai besar menggunakan jembatan dari anyaman rotan. Tatkala sebagian dari mereka sudah tiba di seberang sungai, beberapa orang tiba-tiba berteriak “payau-payau” (maksudnya rusa). Karena jaraknya cukup jauh, menurut pendengaran rombongan yang sudah berada di seberang, bukanlah payau melainkan “Kayau” , yang berarti ada musuh menyerang. Mendengar teriakan itu, serta merta beberapa orang yang telah berada di seberang sungai, memotong jembatan rotan. Setelah itu, barulah mereka sadar telah terjadi salah pengertian.

Meski mereka telah menyadari kekeliruan itu, namun tidak dilakukan usaha penyambungan kembali jembatan rotan yang putus. Bahkan mereka justru bersepakat bahwa, yang telah menyeberang akan terus melanjutkan perjalanan, sedangkan yang belum sempat menyeberang tidak akan melanjutkan perjalanan, melainkan harus kembali ke tempat semula, yaitu Telivaq Telang Usan.

Kemudian, pada tahun 1815, rombongan yang meneruskan perjalanan singgah di Lirung Isau, dekat Muara Pariq untuk membuat perkampungan. Di kampung ini, kala itu masyarakat dipimpin oleh seorang Hipui (raja) bernama Tana Yong.

Setelah menetap di Lirung Isau sekitar 5 tahun, selanjutnya pada 1821 mereka melakukan perpindahan ke lokasi baru, yaitu Uma Tutung Kalung. Lokasi ini tepat terletak di Dermaga Wana Pariq saat ini. Mereka menetap di kawasan ini hingga 1907 di bawah pimpinan Hipui Ding Luhung. Setelah Hipui Ding Luhung wafat, digantikan Hipui Bang Gah, pada 1907 mereka melakukan perpindahan lagi dan membuat Luvung di Long Paneq hingga tahun 1909.

Dari Long Paneq, selanjutnya mereka melakukan perpindahan lagi. Namun perpindahan kali ini, rombongan mereka terpecah menjadi dua kelompok. Rombongan pertama, dibawah pimpinan Hipui Bang Gah dan membuat perkampungan di Bato Lavau. Setelah Hipui Bang Gah wafat, diganti anak perempuannya yaitu Hipui Hubung Bang yang bersuamikan Bo Laden. Kala itu, mereka menjaga, memanfaatkan dan memelihara seluruh kawasan di sungai Pariq.

Pada tahun 1910, kampung Bato Lavau terkena Layo , malapetaka besar-besaran yang merenggut nyawa sebagian besar masyarakat. Meski kemudian malapetaka itu dapat teratasi, mereka tetap sepakat pindah dari Bato Lavau, akhirnya mereka milir sungai Pariq dan menetap di Ban Lirung Haloq. Sedangkan rombongan kedua, dibawah pimpinan Hipui Bo Ngo Wan Imang, telah melakukan perjalanan memasuki sungai Meliti dan membuat Luvung di Gah (riam kecil) Bekahaling, sekitar tahun 1909.

Selanjutnya tahun 1910, mereka melakukan perpindahan lagi dan membuat perkampungan di sungai Tuvaq. Setelah itu, mereka keluar sungai Pariq dan membuat luvung di Gah Belawing. Hingga kini, masih ada bekas pemukiman mereka, juga lepu’u (kebun buahbuahan dan tanaman keras) serta beberapa kuburan.

Akhirnya pada tahun 1913, kedua Hipui dari kelompok pertama dan kedua, bersepakat bersatu kembali. Kemudian, mereka yang berada di Ban Lirung Haloq maupun di Gah Belawing, menetap menjadi satu di Uma Lirung Bunyau dibawah pimpinan Hipui Belawing Ubung, gelar Mas Romeo. 

Meskipun mereka telah bersatu kembali di Uma Lirung Bunyau, tapi lagi-lagi mereka mengalami malapetaka Layo. Dalam pada itu berdasarkan tradisi adat, mereka harus melakukan perpindahan lagi. Maka tahun 1919 mereka melakukan perpindahan dan menetap di Datah Itung, sering juga disebut Lirung Arau atau lebih dikenal dengan sebutan Telivaq. Kala itu, mereka tetap dibawah pimpinan Hipui Belawing Ubung.

Begitulah sejarah asal usul kampung Matalibaq, menurut penuturan leluhur. Kesimpulannya, Telivaq berdiri sejak 1919 dibawah pimpinan Hipui Belawing, kemudian digantikan anak perempuannya bernama Hipui Lawing. Pada 1955, Hipui Lawing diangkat merangkap menjadi Petinggi. Sejak 1972 petinggi di Matalibaq tidak lagi dipegang langsung oleh Hipui, tetapi oleh orang lain yang ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. Sedangkan perubahan nama Telivaq menjadi Matalibaq, terjadi di zaman Kawedanan Long Iram. Nama Matalibaq berasal dari kata Datah Liba yang berarti dataran rendah.
loading...