• Jelajahi

    Copyright © Berita Mahulu - Jaringan Koran Elektronik
    Best Viral Premium Blogger Templates

    iklan

    Sponsor

    Harapan Mgr. Harjo, Imam Harus Berkasih Sayang

    Kamis, 17 Oktober 2019, 23.59.00 WIB Last Updated 2020-07-11T09:22:51Z

    Para imam Diosesan KASRI berfoto bersama Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF di Paroki Long Pahangai.

    Beritamahulu.com,  Long Pahangai - Para imam Diosesan KASRI dari paroki-paroki berkumpul di Paroki St. Yosep Long Pahangai, menyepi untuk mengalami rahmat Allah lewat retret yang dilangsungkan pada tanggal 27 September - 01 Oktober 2019. Yang hadir dalam retret tahunan unio KASRI ini ada 28 imam. Pembimbing retretnya Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF Uskup Keuskupan Agung Samarinda. Tahun 2019 ini adalah tahun ketiga Bapa Uskup mendampingi imam-imam Diosesan dalam mengolah diri sebagai gembala umat. Bagi para imam Diosesan ini adalah kesempatan yang berharga berada bersama gembala utama mereka.
    Tema retret tahun 2019 “Gembala yang Baik: Gembala yang Berkasih Sayang”. Tema tahun ini merupakan kelanjutan dari tema tahun lalu yakni “Gembala Berbau Domba”. Dari tema tahun ini Bapa Uskup mengharapkan para imam dalam pelayanan kepada umat (domba-domba) hendaknya penuh kasih sayang.  Namun sebelum melangsungkan permenungan-permenungan Bapak Uksup mengingatkan bahwa dalam retret yang akan dilewati tidak hanya sekedar merenungkan bahan-bahan yang diberikan lewat panduan pertanyaan-pertanyaan tetapi juga berdoa. Menurut Beliau Tuhan akan bekerja dalam diri siapa saja yang merenungi-Nya ketika dia membuka diri kepada Tuhan lewat doa. Beliau sempat berkomentar demikian “Orang beriman ketika sedang berhadapan dengan masalah kerap hanya memutar otak untuk mencari solusi, mengapa tidak berdoa?”
    Berkasih sayang merupakan ciri khas dari manusia, dalam kata lainnya berafeksi. Maka Bapak Uskup dalam waktu yang penuh rahmat ini membantu para imamnya untuk mengenali sejarah perkembangan afeksi masing-masing. Para imam diajak mengenali afeksi-afeksi yang sehat dan juga afeksi-afeksi yang tidak sehat. Afeksi itu bertumbuh dan berkembang dari situasi dan lingkungan tertentu seperti keluarga, masyarakat, lingkungan pendidikan, pergaulan dll. Perkembagan afeksi tersebut dibantu oleh akal budi dan kehendak. 


    Pertama, afeksi yang sehat artinya afeksi yang ada dalam diri para imam yang diberikan kepada rekan imam, umat dan juga siapa saja. Afeksi itu menuntun mereka hidup terarah keluar, mengurbankan diri untuk kepentingan orang lain. Lebih dari itu, bahwa afeksi yang diberikan itu sungguh tulus tidak mengharapkan sesuatu. Sebagai gembala yang baik afeksi yang diberikan kepada orang lain harus sampai pada fase rohani. Artinya afeksi yang diberikan itu berasal dari penghayatan iman akan Tuhan Berkasih Sayang itu sendiri. Dan hal itu terjadi secara konstan, tidak berhenti, tidak pernah habis. Karena didalam dirinya sendiri sudah berkecukupan, muncul secara spontan, tidak dibuat-buat, jujur dan apa adanya.
    Kedua, afeksi yang tidak sehat artinya afeksi yang hanya terjebak pada kepentingan diri sendiri. Afeksi semacam ini kerap menghalangi untuk memberi dan bahkan muncul sikap tidak peduli pada lingkungan sekitar, khususnya berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan umat. Afeksi ini bisa mendistorsi tata nilai dan moralitas yang seharusnya dihindari oleh seorang pemimpin umat.
    Dalam setiap sesi Bapak Uskup mengajak para imam untuk merefleksikan secara pribadi dan kemudian masuk dalam kelompok kecil dan berbagi hasil refleksi kepada yang lain. Bapa Uskup berpendapat bahwa berbagi refleksi merupakan salah satu kontribusi bagi yang lain. Harapannya semuanya bisa saling diperkaya dan mungkin juga diteguhkan atau dikuatkan. Maka dalam konfrensi umum Bapak Uskup juga memberikan kesempatan kepada para imam untuk bersharing.  
    Pada intinya dari retret ini Bapak Uskup mengharapkan para imam menjadi imam yang baik, yang berkasih sayang. Sebab Allah itu juga penuh kasih sayang kepada manusia. Kasih sayang Allah yang tertinggi ialah menyerahkan Yesus Putra Tunggal-Nya demi keselamatan manusia. Yesus dalam karya-Nya di dunia juga menunjukkan kasih sayang yang sangat manusiawi namun sekaligus rohani. Maka Bapa Uskup berkata, “Kita hendaknya berada bersama dengan Yesus: mengikuti, memperhatikan, mendengar dan berjalan bersama Yesus kemana saja seperti para rasul;  berpandangan seperti Dia dalam memandang dunia dan manusia bahkan memiliki visi keselamatan bagi Gereja dan dunia; bertindak seperti Dia mengurbankan diri demi orang lain. Inilah yang diharapkan keluar dari afeksi yang sehat sebagai gembala umat.”

    Penulis : Fabianus Lana
    Editor   : Sirilus Hendri Santoso
    Komentar

    Tampilkan

    Berita Kubar

    Pemerintah

    +